28 Oktober 2013. Resmi sudah menyadang gelar sebagai editor. Profesi yang dari awal kuliah memang sudah saya cita-citakan. Tak pernah terbayang jika beban kerjanya seberat ini. Tuhan menaruh saya ditempat yang tepat. Saya banyak belajar, banyak tahu, dan banyak membaca tentang apa saja yang dulunya tidak saya suka. Saya juga mulai tahu alur sebuah naskah bisa menjadi buku yang baik.
November 2013 adalah awal penjajakan dengan kehidupan editorial. Banyak ketegangan dan kekecewaan yang saya alami. Saya menjadi satu-satunya editor Bahasa Indonesia di sebuah penerbit. Akan tetapi, banyak sekali pedoman penulisan yang belum saya pahami dan pakai di sini. Berbekal ilmu dari masa kuliah (karena kebetulan anak Sastra Indonesia), saya salah menyematkan tanda petik untuk percakapan di buku SD.
Di akhir tahun, cobaan demi cobaan datang menguji. Kala itu, naskah berdatangan, terutama naskah untuk Ujian Nasional (UN). Editor baru yang harus pegang naskah soal
try out, soal kisi-kisi, dan soal UN serta pembahasannya. Saat itu, saya dituntut untuk mengikuti ritme kerja editor senior yang pengalamannya sudah hampir 5-9 tahun. Sangat capek rasanya memang, tapi ya lumayan untuk pemanasan.
Semakin hari, semakin dituntut untuk menguasai berbagai macam naskah. Bahkan, sekarang saya sudah mengedit naskah Bahasa Jawa sebanyak 6 Jilid. hampir setahun setengah saya bertahan ini. Betah karena nyaman lingkungannya. Bulan ketiga, muncullah masalah baru. Setelah bertanya dengan teman yang lain, ternyata gaji karyawan baru lebih besar. Dari cerita yang saya dengar dari koordinator, mungkin ada beberapa alasan yang menyebabkan saya disebut "kurang layak". Salah satunya, karena saya adalah salah satu karyawan yang jarang lembur (keloyalan terhadap perusahaan dipertanyakan). Yah, awalnya sih mereka bisa memaklumi saya. Tempat tinggal saya bisa dibilang salah satu di antara yang terjauh. Kalau pulang pukul 17.00 saja, sampai rumah bisa sampai pukul 19.30. Apalagi kalau harus lembur, saya bisa sampai rumah pukul 23.00.