Kamis, 23 Juni 2016

Kisah Anak dan Pengharapan
          Baru nikah beberapa bulan, tapi udah sering ditanya soal kehamilan, mana suaranya? Yak, kira-kira ada ribuan lah yg angkat tangan. Bahkan, sedari saya belum ada sebulan usia pernikahan sudah ditanya teman kantor, “Cil, kamu udah hamil belum?” Tapi, waktu itu jawaban saya hanya cengir-cengir kambing aja.
          Gak ada yang salah sih dari mereka. Gak ada yang salah juga dari saya. Kan, hamil gak bisa dibikin sendiri, ya, layaknya bikin nastar tinggal beli tepung sama mentega aja panggang-panggang dikit sejam jadi. Mungkin mereka kurang sadar kalau yang mereka tanyakan itu “perkara besar”. Ada hak dan kekuasaan Allah di sana. Ah jadi panjang lebar mukadimahnya.
          Bulan-bulan awal menikah saya masih santai menanggapi pertanyaan “maut” itu. Ya, paling mentok jawabannya, belum bu masih ikhtiar. Tapi, sudah 7 bulan usia pernikahan saya semakin gelisah. Rasanya, pertanyaan-pertanyaan itu gak ada habisnya.
Justru dari banyak pertanyaan itu, saya berpikir, kenapa sih saya harus hamil? Apakah tujuan menikah saya cuma hamil? Ya padahal mah ada yang gak perlu nikah dulu, bisa hamil. Naluri saya berontak. Dalam hati saya, jangan sampai saya hamil hanya demi “membahagiakan” orang-orang di sekitar saya. Cuma biar bisa jawab “udah” pas ditanya, “eh udah hamil, ya?”. Padahal, dengan cara lain bisa kok, misalnya usai lebaran bagi-bagi sembako ke tetangga. Betul gak sih? Harus ada alasan yang “lebih berharga” dari itu, menurut saya.
          Hal itu terus saja saya pikirkan. Saya harus menemukan satu alasan kenapa saya harus hamil. Supaya nantinya, saya gak akan pernah menyesali dan mengeluh kesah dengan yang saya harapkan ini. Supaya nantinya anak ini tahu, ibunya benar-benar menginginkannya dengan segala doa dan harapan baik terhadapnya.
          Kok, layaknya gak pantes ya saya minta doa biar hamil. Rasanya tuh kayak gini, Tuhan gue udah nikah nih, gue mau anak sekarang, gue mau hamil dong plis. Ahhh jahat sekali rasanya. Manusia memang gak pernah puas. Sejatinya, kita bisa menggali kebahagiaan dari sumber mana saja. Ketika belum dikasih anak, yaa bahagialah setidaknya sudah dikasih suami. Banyak di luar sana, sampai umur puluhan tahun belum juga dipertemukan dengan jodohnya. Kita lebih beruntung bukan?
          Intinya, yang selalu saya ingat kata pepatah, ketika satu pintu kebahagiaan tertutup jangan terpaku hanya pada pintu itu. Lihatlah pintu-pintu yang lain. Masih banyak pintu terbuka yang masih bisa kamu masuki.

          Sekarang memasukin usia pernikahan 7 bulan. Saya dan suami belum juga ada niat untuk program hamil. Usaha saya baru sebatas berdoa dan minum vitamin E. Si suami susah sekali diajak menyambangi dokter kandungan. Tiap kali saya bahas soal anak, suami langsung mengalihkan ke hal lain. Mungkin secara tidak langsung, dia tidak mau menggali kesedihan saya. Saya sudah amat bersyukur dianugerahi suami seperti dia. Mungkin ini dulu yang mesti saya syukuri. 

Rabu, 15 April 2015

Membetulkan Kacamata

15 April 2015

Dua hari ini saya sedang belajar banyak hal. Allah sudah menyiapkan materinya. Orang-orang di sekeliling saya adalah gurunya. Saya percaya bahwa manusia didewasakan oleh masalah.

Beberapa hari ini, seolah-olah seisi alam sedang tak bersahabat. Masalah datang tanpa mengetuk pintu, lalu permisi dulu. Lelah raga tak seberapa dengan lelah jiwa. Mungkin ini salah satu konsekuensi sebagai pejuang deadline (baca:editor). Di tekan dari berbagai sisi. Kesenjangan gaji membuat saya lupa bersyukur, bahwa masih ada banyak hal yg bisa saya syukuri. 

Kesimpulan saya adalah, bahwa mendapat rezeki adalah kebahagiaan. Akan tetapi, rezeki tidak hanya uang. Itu mengapa, uang bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan.

Selasa, 14 April 2015

Curhatan Editor

28 Oktober 2013. Resmi sudah menyadang gelar sebagai editor. Profesi yang dari awal kuliah memang sudah saya cita-citakan. Tak pernah terbayang jika beban kerjanya seberat ini. Tuhan menaruh saya ditempat yang tepat. Saya banyak belajar, banyak tahu, dan banyak membaca tentang apa saja yang dulunya tidak saya suka. Saya juga mulai tahu alur sebuah naskah bisa menjadi buku yang baik.

November 2013 adalah awal penjajakan dengan kehidupan editorial. Banyak ketegangan dan kekecewaan yang saya alami. Saya menjadi satu-satunya editor Bahasa Indonesia di sebuah penerbit. Akan tetapi, banyak sekali pedoman penulisan yang belum saya pahami dan pakai di sini. Berbekal ilmu dari masa kuliah (karena kebetulan anak Sastra Indonesia), saya salah menyematkan tanda petik untuk percakapan di buku SD.

Di akhir tahun, cobaan demi cobaan datang menguji. Kala itu, naskah berdatangan, terutama naskah untuk Ujian Nasional (UN). Editor baru yang harus pegang naskah soal try out, soal kisi-kisi, dan soal UN serta pembahasannya. Saat itu, saya dituntut untuk mengikuti ritme kerja editor senior yang pengalamannya sudah hampir 5-9 tahun. Sangat capek rasanya memang, tapi ya lumayan untuk pemanasan.

Semakin hari, semakin dituntut untuk menguasai berbagai macam naskah. Bahkan, sekarang saya sudah mengedit naskah Bahasa Jawa sebanyak 6 Jilid. hampir setahun setengah saya bertahan ini. Betah karena nyaman lingkungannya. Bulan ketiga, muncullah masalah baru. Setelah bertanya dengan teman yang lain, ternyata gaji karyawan baru lebih besar. Dari cerita yang saya dengar dari koordinator, mungkin ada beberapa alasan yang menyebabkan saya disebut "kurang layak". Salah satunya, karena saya adalah salah satu karyawan yang jarang lembur (keloyalan terhadap perusahaan dipertanyakan). Yah, awalnya sih mereka bisa memaklumi saya. Tempat tinggal saya bisa dibilang salah satu di antara yang terjauh. Kalau pulang pukul 17.00 saja, sampai rumah bisa sampai pukul 19.30. Apalagi kalau harus lembur, saya bisa sampai rumah pukul 23.00.