Kisah
Anak dan Pengharapan
Baru
nikah beberapa bulan, tapi udah sering ditanya soal kehamilan, mana suaranya? Yak,
kira-kira ada ribuan lah yg angkat tangan. Bahkan, sedari saya belum ada
sebulan usia pernikahan sudah ditanya teman kantor, “Cil, kamu udah hamil belum?”
Tapi, waktu itu jawaban saya hanya cengir-cengir kambing aja.
Gak
ada yang salah sih dari mereka. Gak ada yang salah juga dari saya. Kan, hamil
gak bisa dibikin sendiri, ya, layaknya bikin nastar tinggal beli tepung sama
mentega aja panggang-panggang dikit sejam jadi. Mungkin mereka kurang sadar
kalau yang mereka tanyakan itu “perkara besar”. Ada hak dan kekuasaan Allah di
sana. Ah jadi panjang lebar mukadimahnya.
Bulan-bulan
awal menikah saya masih santai menanggapi pertanyaan “maut” itu. Ya, paling
mentok jawabannya, belum bu masih ikhtiar. Tapi, sudah 7 bulan usia pernikahan
saya semakin gelisah. Rasanya, pertanyaan-pertanyaan itu gak ada habisnya.
Justru dari
banyak pertanyaan itu, saya berpikir, kenapa sih saya harus hamil? Apakah
tujuan menikah saya cuma hamil? Ya padahal mah ada yang gak perlu nikah dulu,
bisa hamil. Naluri saya berontak. Dalam hati saya, jangan sampai saya hamil hanya
demi “membahagiakan” orang-orang di sekitar saya. Cuma biar bisa jawab “udah”
pas ditanya, “eh udah hamil, ya?”. Padahal, dengan cara lain bisa kok, misalnya
usai lebaran bagi-bagi sembako ke tetangga. Betul gak sih? Harus ada alasan
yang “lebih berharga” dari itu, menurut saya.
Hal
itu terus saja saya pikirkan. Saya harus menemukan satu alasan kenapa saya
harus hamil. Supaya nantinya, saya gak akan pernah menyesali dan mengeluh kesah
dengan yang saya harapkan ini. Supaya nantinya anak ini tahu, ibunya
benar-benar menginginkannya dengan segala doa dan harapan baik terhadapnya.
Kok,
layaknya gak pantes ya saya minta doa biar hamil. Rasanya tuh kayak gini, Tuhan
gue udah nikah nih, gue mau anak sekarang, gue mau hamil dong plis. Ahhh jahat
sekali rasanya. Manusia memang gak pernah puas. Sejatinya, kita bisa menggali
kebahagiaan dari sumber mana saja. Ketika belum dikasih anak, yaa bahagialah
setidaknya sudah dikasih suami. Banyak di luar sana, sampai umur puluhan tahun belum
juga dipertemukan dengan jodohnya. Kita lebih beruntung bukan?
Intinya,
yang selalu saya ingat kata pepatah, ketika satu pintu kebahagiaan tertutup
jangan terpaku hanya pada pintu itu. Lihatlah pintu-pintu yang lain. Masih banyak
pintu terbuka yang masih bisa kamu masuki.
Sekarang
memasukin usia pernikahan 7 bulan. Saya dan suami belum juga ada niat untuk
program hamil. Usaha saya baru sebatas berdoa dan minum vitamin E. Si suami
susah sekali diajak menyambangi dokter kandungan. Tiap kali saya bahas soal
anak, suami langsung mengalihkan ke hal lain. Mungkin secara tidak langsung, dia
tidak mau menggali kesedihan saya. Saya sudah amat bersyukur dianugerahi suami
seperti dia. Mungkin ini dulu yang mesti saya syukuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar